Latest Updates

Pikiran, Ki dan Kekuatan

  • Latihan Shorinji Kempo bertujuan untuk mengembangkan jiwa / pikiran (shin ryoku), semangat (ki ryoku) dan kekuatan fisik / tubuh (tai ryoku), menggabungkan tiga hal tersebut dan melakukan tindakan sesegera mungkin.
  • Merasakan serangan lawan dan membela diri adalah cara kerja jiwa / pikiran (shin). Berusaha menaklukkan diri sendiri maupun lawan adalah cara kerja semangat (ki). Menaklukkan lawan dengan menggunakan teknik beladiri adalah cara kerja kekuatan fisik (tai).
  • Siapapun yang berlatih Shorinji Kempo harus mengembangkan intuisi dan keberanian (keteguhan hati) sehingga dapat selalu memunculkan perasaan tenang (Heijo Shin).



Pikiran, Ki dan Kekuatan adalah Sama Penting - Tindakan harus menggunakan Jiwa / Pikiran dan Fisik
Manusia diciptakan dengan jiwa dan raga, yang satu tidak dapat hidup tanpa yang lain, keduanya sama pentingnya. Sewaktu jiwa (pikiran) dan raga (tindakan) bekerja bersama, banyak hal luar biasa yang dihasilkan.Seorang ilmuwan tidak akan menghasilkan penemuan apapun tanpa mewujudkan pikirannya dengan tindakan. Manusia terkuat di dunia tidak akan berarti bila tidak menggunakan kekuatannya. Untuk mencapai hal apapun, pikiran, semangat dan kekuatan fisik harus bertindak secara bersamaan. Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang orang yang mampu berbuat luar biasa saat terdesak. Misal seseorang ibu terluka parah dapat menggeser mobil untuk menyelamatkan anaknya, seseorang yang dapat melompati tembok yang tinggi saat dikejar anjing. Hal tersebut dapat terjadi jika pikiran, ki dan kekuatan bersatu. Jika seseorang pernah mengalami kekuatan ini, mempelajarinya dan berlatih untuk mengeluarkannya maka seseorang akan memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan apapun.

Penggunaan Mata - Happo Moku

Dalam beladiri, merasakan gerakan lawan adalah penting. Dalam melakukannya, pandangan kita harus memandang ke semua arah (happo moku). Melihat hanya ke satu arah dan mengubah-ubah arah pandangan akan membuat lawan tahu maksud kita. Berlatihlah untuk membaca gerakan lawan tanpa mengubah arah mata.

Intuisi - Mendapatkan Momentum Serangan dan Pembelaan Diri dan Memberikan Respon dengan Cepat

Kesempatan dalam menyerang dan membela diri adalah suatu hal yang cepat. Tidak ada waktu untuk berpikir dan membuat keputusan, seseorang harus mengambil kesempatan dengan cepat. Untuk melakukannya, kita harus memiliki intuisi / Kan. Intuisi telah dikenal sejak dulu sebagai kekuatan tertinggi manusia. Mendengarkan suara tanpa bunyi, merasakan sesuatu tanpa dapat dijelaskan asalnya adalah intuisi (biasa juga disebut indra keenam). Tidak ada cara untuk mengembangkan intuisi, selain mendapatkannya dari pengalaman kehidupan sehari-hari, menghubungkan kejadian-kejadian yang terjadi serta mendapatkan cara menghadapi kejadaian-kejadian tersebut.

Heijo Shin - Menggunakan Pikiran dan Tubuh dalam Sesuatu yang Dilakukan

Dalam berlatih, kita harus memunculkan keberanian dan keteguhan hati sehingga dalam kondisi apapun kita tidak mudah takut dan bingung.Pernapasan dan semangat tidak terpengaruh sehingga dapat mengahadapi kondisi apapun dengan perasaan tenang. Ketenangan jiwa ini disebut Heijo Shin. Hal ini adalah bentuk dari keteguhan hati (ton ryoku / kekuatan keberanian) dan merupakan perwujudan kekuatan semangat seseorang.

Langkah pertama untuk mengembangkan Heijo Shin adalah dengan berlatih, menguasai teknik untuk mengatasi serangan, mengembangkan kekuatan fisik dan menambah pengalaman, yang akan memberikan kepada kita rasa percaya diri sehingga muncul ketenangan jiwa.Langkah kedua adalah berjuang menghadapi kesulitan dan permasalahan, kuat menghadapi kondisi menyakitkan / menakutkan dan berhasil melewatinya. Mengatasi ketakutan dan kekhawatiran akan mengajarkan kepada kita bahwa tekad yang bulat dapat mengatasi segala kesulitan.

Zanshin - Gunakan Pikiran Anda sehingga Waspada

Saat kita yakin bahwa lawan sudah ditaklukkan, sebenarnya bisa saja lawan hanya menipu kita. Kita harus siap terhadap apapun yang mungkin terjadi, tidak hanya secara fisik tetapi juga pikiran sehingga kita tetap waspada. Karenanya penting untuk berlatih membangun kebiasaan melakukan zanshin, tidak hanya saat melakukan teknik, tetapi juga setelah teknik selesai dilaksanakan dan dalam waktu jeda antara satu teknik ke teknik lainnya.

Organisasi-Organisasi dalam Shorinji Kempo

 Organisasi-Organisasi dalam Shorinji Kempo






Ada empat organisasi dalam Shorinji Kempo Group:
  1. Kongo Zen Sohonzan Shorinji (Shorinji Kempo sebagai Organisasi Keagamaan)
  2. Sekolah Tinggi Zenrin Gakuen (Shorinji Kempo sebagai Organisasi Pendidikan) 
  3. Federasi Shorinji Kempo Jepang (Shorinji Kempo sebagai Organisasi Olahraga di Jepang)
  4. World Shorinji Kempo Organization (Shorinji Kempo sebagai Organisasi Olahraga di Dunia)
Berdasarkan kesepakatan, organisasi-organisasi ini membentuk Shorinji Kempo Group dan menunjuk Yuuki So (Shike Shorinji Kempo, Doshin So II) sebagai Ketua. Maksud didirikannya Shorinji Kempo Group ini adalah untuk menjamin pengajaran dan teknik yang didesain oleh Doshin So, tetap diturunkan dan dikembangkan selayaknya pada abad ke-21 ini. Oleh karenanya Shorinji Kempo bertujuan agar setiap organisasi benar-benar menjaga karakteristik khususnya, serta menjaga kerjasama yang baik, menyebarkan pengajaran, mengembangkan kegiatan pendidikan dan menyumbangkan kepada masyarakat dengan mengembangkan jenis individu yang dibutuhkan masyarakat.

Perkembangan Organisasi -

  • Tahun 1947, ketika Jepang berada di bawah kekuasaan tentara Sekutu, Kaiso mendesain beladiri Shorinji Kempo dengan misi memperbaharui negaranya dengan mengembangkan penduduknya.
  • Tahun 1948, Kaiso mendirikan Nippon Hoppa Shorinji Kempo Kai. Bersamaan dengan itu, Kaiso memperoleh pengesahan untuk membentuk organisasi keagamaan yang bernama Ko Manji Kyodan, yang terinspirasi dari organisasi Hong Wan Kai (masyarakat penderma) yang dia temui di Cina.
  • Tahun 1951, ketika Undang-Undang baru bagi organisasi keagamaan berlaku, Ko Manji Kyodan berubah nama menjadi Kongo Zen Sohonzan Shorinji. Saat itu banyak Kenshi baru yang merpakan karyawan Departemen Mesin Industri Kereta Api Nasional Jepang (sekarang Perusahaan Angkutan Kereta Api Jepang), anggota Pasukan Polisi Zentsuji (kini Pasukan Beladiri Jepang) dan pelajar-pelajar di Sekolah Menengah. Dengan cepatnya para Kenshi ini mendapat pekerjaan, berpindah atau memasuki perguruan tinggi sehingga Shorinji Kempo dapat tersebar dengan cepat.
  • Tahun 1956, berdiri Nihon Shorinji Kempo Bugei Senmon Gakko sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan kepemimpinan. Pada Tahun 1958 berubah nama menjadi Nihon Shorinji Budo Senmon Gakko (Akademi Beladiri Shorinji Jepang) yang kemudian membuka latihan beladiri penuh waktu dan juga kursus-kursus tambahan lainnya di seluruh Jepang. Pada Tahun 2002 membuka Sekolah Menengah dan pada Tahun 2003 berganti nama menjadi Zenrin Gakuen (Sekolah Tinggi Zenrin Gakuen) dengan membentuk kurikulum/fakultas manajemen kreatif dan teknik.
  • Tahun 1957 dibentuk Zen Nihon Shorinji Kempo Remmei (Federasi Shorinji Kempo Jepang). Pada Tahun 1963, untuk mengakomodasi perkembangan organisasi yang sedemikian cepat berubah menjadi badan usaha, bernama Shadan Hojin Nihon Shorinji Kempo Remmei (Perusahaan Federasi Gabungan Shorinji Kempo Jepang). Pada Tahun 1977, Federasi Shorinji Kempo Jepang bersama Federasi Judo, Kendo, Kyudo, Sumo, Karatedo, Aikikai, Naginata, Jukendo Nippon Budokan membentuk Zaidan Hojin Nihon Taiiku Kyokai (Dewan Budo/Beladiri Jepang). Pada Tahun 1990 bergabung dengan Nihon Budo Kyogikai (Asosiasi Pendidikan Fisik Jepang). Pada Tahun 1992 Federasi Shorinji Kempo Jepang berubah menjadi yayasan dengan nama Zaidan Hojin Shorinji Kempo Remmei.
  • Tahun 1972, dibentuk Federasi Shorinji Kempo Internasional oleh delapan negara, yaitu Jepang, Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Brazil, Swedia, Filipina dan Iran. Selanjutnya berkembang menjadi 18 negara dan diubah namanya menjadi World Shorinji Kempo Organization (WSKO).

Prinsip Ajaran Shorinji Kempo

              Prinsip Pertama Ajaran Shorinji Kempo (Beladiri dan Pengembangan Jiwa dan Raga yang Sehat) Seni ini tidak diciptakan untuk tujuan berkelahi atau mengalahkan orang lain tetapi sebagai metode untuk mempelajari penguasaan diri, keseimbangan jiwa dan raga serta kemajuan bersama dengan latihan. Shorinji Kempo membangun kembali tradisi ini dan memberikan manfaat kemampuan beladiri, pengembangan jiwa dan raga yang sehat.

SEJARAH SHORINJI KEMPO



Kira-kira pada tahun 550 M, Pendeta Budha ke-28 bernama Dharma Taishi pindah dari Baramon (India) ke dataran Tiongkok. Ia menetap di kuil Siauw Li Em Sia atau yang dikenal dengan sebutan Shorinji yang terletak di Propinsi Kwa Nam. Selama di India Dharma Taishi pernah belajar Indo Kempo (Silat India), dan karena tantangan-tantangan selama perjalanan ke Tiongkok, kemudian ia mempelajari pula berbagai aliran silat Tiongkok kuno. Setelah 9 tahun ia bertapa, ia menciptakan seni bela diri SHORINJI KEMPO atau SIAUW LIEM SIE KUNG-FU.
            Shorinjii Kempo berkembang pesat di Tiongkok, dan berpengaruh dalam masyarakat. Pada tahun 1900-1991, di tiongkok meletus PERANG BOXER antara rakyat Tiongkok termasuk pengikut Shorinji Kempo melawan Kolonialisme Barat. Pengikut kalah melawan Kolonilisme Barat, para pengikut Shorinji Kempo dikejar dan dibunuh. Kebanyakan mereka melarikan diri ke arah Timur dan Selatan, dan mengajarkan aliran Shorinji Kempo ke pedagang-pedagang dari Okinawa, Taiwan dan juga Muangthai sehingga muncullah aliran bela diri baru Thai Boxing di Muangthai, Karate di Okinawa, Ju-Jit-Su, Aikido, dan Judo.
            Sebelum Perang Dunia II, Doshin So tinggal di Cina. beliau berkesempatan berlatih dari beberapa aliran Kempo yang sudah berkembang. Doshin So dipaksa untuk pulang ke Jepang pada saat Rusia memulai invansinya ke Mansuria. Pengalaman saat Rusia menduduki Cina, menimbulkan inspirasi Doshin So untuk mendedikasikan dirinya untuk membangun orang-orang yang memiliki keinginan untuk berbhakti kepada masyarakat dan lingkungannya. Doshin So memakai prinsip - prinsip ajaran Budha pada awalnya. Sementara ajarannya terus berkembang, Doshin So sadar bahwa dengan kata-kata saja tidaklah cukup.Oleh sebab itu beliau mulai mendirikan Dojo yang dipakai sebagai tempat untuk berlatih dan meningkatkan seni bela diri yang ia pelajari selama ini dan menyatukannya kedalam system yang dikembangkannya sendiri. Dimana dalam hal ini beliau menyatukan / mengkombinasikan antara tehnik fisik dan filosofi beliau (Kongo Zen), maka lahirlah seni bela diri Shorinji Kempo. 


ORGANISASI KEMPO DUNIA DAN INDONESIA

Shorinji Kempo berbasis di kota Tadotsu, kota dimana Doshin So mulai mengajarkan Shorinji Kempo. Saat ini tidak kurang dari 1.5 juta anggotanya tersebar diseluruh dunia, yang tergabung dalam WSKO (World Shorinji Kempo Organisation). Di Indonesia Kempo mulai dikenal pada tahun 1966, dimana pada saat itu tiga orang pemuda Indonesia baru kembali dari menimba ilmu di Jepang. Ketiga pemuda itu adalah Ginanjar Kartasasmita, Indra Kartasasmita dan Uthin Syahraz (alm.) Kemudian ketiga pemuda ini mendirikan organisasi yang diberi nama PERKEMI (Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia) sebagai wadah perkumpulan seni beladiri Kempo secara nasional. Tepatnya PERKEMI berdiri pada 2 Pebruari, 1966 dan pada tahu 1970 PERKEMI mendapat pengakuan dari KONI (Komite Olah raga Nasional Indonesia), dan juga sudah mendapat pengakuan dari WSKO (World Shorinji Kempo Organisation) Saat ini PERKEMI sudah memiliki cabang di 26 propinsi di seluruh Indonesia.

Sekilas Tentang SHORINJI KEMPO



aaaa
Kira-kira pada tahun 550 M, Pendeta Budha ke-28 bernama Dharma Taishi pindah dari Baramon (India) ke dataran Tiongkok. Ia menetap di kuil Siauw Li Em Sia atau yang dikenal dengan sebutan Shorinji yang terletak di Propinsi Kwa Nam. Selama di India Dharma Taishi pernah belajar Indo Kempo (Silat India), dan karena tantangan-tantangan selama perjalanan ke Tiongkok, kemudian ia mempelajari pula berbagai aliran silat Tiongkok kuno. Setelah 9 tahun ia bertapa, ia menciptakan seni bela diri SHORINJI KEMPO atau SIAUW LIEM SIE KUNG-FU.
            Shorinjii Kempo berkembang pesat di Tiongkok, dan berpengaruh dalam masyarakat. Pada tahun 1900-1991, di tiongkok meletus PERANG BOXER antara rakyat Tiongkok termasuk pengikut Shorinji Kempo melawan Kolonialisme Barat. Pengikut kalah melawan Kolonilisme Barat, para pengikut Shorinji Kempo dikejar dan dibunuh. Kebanyakan mereka melarikan diri ke arah Timur dan Selatan, dan mengajarkan aliran Shorinji Kempo ke pedagang-pedagang dari Okinawa, Taiwan dan juga Muangthai sehingga muncullah aliran bela diri baru Thai Boxing di Muangthai, Karate di Okinawa, Ju-Jit-Su, Aikido, dan Judo.
           Sebelum Perang Dunia II, Doshin So tinggal di Cina. beliau berkesempatan berlatih dari beberapa aliran Kempo yang sudah berkembang. Doshin So dipaksa untuk pulang ke Jepang pada saat Rusia memulai invansinya ke Mansuria. Pengalaman saat Rusia menduduki Cina, menimbulkan inspirasi Doshin So untuk mendedikasikan dirinya untuk membangun orang-orang yang memiliki keinginan untuk berbhakti kepada masyarakat dan lingkungannya. Doshin So memakai prinsip - prinsip ajaran Budha pada awalnya. Sementara ajarannya terus berkembang, Doshin So sadar bahwa dengan kata-kata saja tidaklah cukup.Oleh sebab itu beliau mulai mendirikan Dojo yang dipakai sebagai tempat untuk berlatih dan meningkatkan seni bela diri yang ia pelajari selama ini dan menyatukannya kedalam system yang dikembangkannya sendiri. Dimana dalam hal ini beliau menyatukan / mengkombinasikan antara tehnik fisik dan filosofi beliau (Kongo Zen), maka lahirlah seni bela diri Shorinji Kempo. 

             Shorinji Kempo berbasis di kota Tadotsu, kota dimana Doshin So mulai mengajarkan Shorinji Kempo. Saat ini tidak kurang dari 1.5 juta anggotanya tersebar diseluruh dunia, yang tergabung dalam WSKO (World Shorinji Kempo Organisation). 

 Shorinji Kempo di Indonesia

           Di Indonesia Kempo mulai dikenal pada tahun 1966, dimana pada saat itu tiga orang pemuda Indonesia baru kembali dari menimba ilmu di Jepang. Ketiga pemuda itu adalah Ginanjar Kartasasmita, Indra Kartasasmita dan Uthin Syahraz (alm.) Kemudian ketiga pemuda ini mendirikan organisasi yang diberi nama PERKEMI (Persaudaraan Beladiri Kempo Indonesia) sebagai wadah perkumpulan seni beladiri Kempo secara nasional. Tepatnya PERKEMI berdiri pada 2 Pebruari, 1966 dan pada tahu 1970 PERKEMI mendapat pengakuan dari KONI (Komite Olah raga Nasional Indonesia), dan juga sudah mendapat pengakuan dari WSKO (World Shorinji Kempo Organisation) Saat ini PERKEMI sudah memiliki cabang di 26 propinsi di seluruh Indonesia.